PENGEMBANGAN PAKET BERGAMBAR DAN PENERAPAN MODEL STRUCTURE LEARNING APPROACH (SLA) UNTUK MELATIH
Written by Ni Wayan Suarniati*)
Friday, 12 November 2010
PENDAHULUAN
Perkembangan aspek sosial siswa menjadi sangat penting dalam penyesuaian sosial anak Sekolah Dasar. Para ahli psikologi melabelkan masa ini sebagai usia berkelompok, usia kreatif dan usia penyesuaian diri, yaitu suatu masa- dengan perhatian utama anak tertuju pada keinginan- untuk diterima oleh teman-teman sebaya sebagai anggota kelompok, terutama kelompok yang bergengsi dalam pandangan mereka. Oleh karena itu anak selalu ingin menyesuaikan diri dengan standar kelompok dalam berpenampilan, berbicara maupun berperilaku.
Untuk itu mereka membutuhkan dasar-dasar pengetahuan dan keterampilan yang dapat menunjang keberhasilan penyesuaian diri. Hasil survey dan hasil-hasil penelitian menunjukkan bahwa banyak masalah yang dialami siswa Sekolah Dasar yang disebabkan oleh kurangnya pengetahuan dan keterampilan sosial. Hasil penelitian Bingham dan Piotrowskiyang dikutip oleh Rizki Eriandi (2207) menyebutkan bahwa keterampilan sosial yang tidak memadai merupakan salah satu karakter dari seorang pecandu situs-situs porno (addicted to cybersex). Demikian pula hasil survey dari L. Verina H. Secapramana (2003) pada semua jenjang pendidikan di Indonesia yang menyebutkan adanya kecendrungan yang sama khususnya pada siswa SD, yang berupa kemorosotan emosi seperti menarik diri dari pergaulan (masalah sosial), lebih suka menyendiri, bersikap sembunyi-sembunyi, banyak bermuram durja, kurang bersemangat, merasa tidak bahagia, ketergantungan yang tinggi pada orang lain, cemas, menyendiri, takut, ingin sempurna, merasa tidak dicintai, sedih, depresi, tidak dapat memusatkan per-hatian, tidak tenang, agresif, bergaul dengan anak yang bermasalah, bersikap kasar pada orang lain, menuntut perhatian, merusak milik orang lain, bandel di sekolah dan di rumah, keras kepala, suasana hatinya berubah-ubah, terlalu banyak bicara, sering mengolok-olok dan bertemperamen panas. Menurutnya pelatihan untuk menyatakan perasaan negatif (marah, frustasi, kecewa, depresi dan cemas) dan keterampilan sosial merupakan salah satu solusi yang dapat dilakukan pada pendidikan di masa kanak-kanak ini. (http://secapramana.tripod.com/ diakses pada hari Senin, 8 Juli 2007)
Sementara peranan guru di Sekolah Dasar tidak hanya sebagai pengajar tetapi sekaligus pembimbing. Padahal menurut Sue Watson (2003), dalam setiap pembelajaran di kelas guru-guru hendaknya dapat mengajarkan kepada siswa tentang pentingnya dan kegunaan dari keterampilan sosial yang dimiliki untuk menyelesaikan masalah-masalah di sekitar mereka. Anak-anak mengembangkan perilaku-perilaku yang dibutuhkan melalui keterampilan sosial yang diajarkan pada setiap pelajaran. Keterampilan sosial diartikan sebagai keterampilan yang dapat diajarkan pada setiap usia, yang membutuhkannya untuk perkembangan ke tahap remaja selanjutnya. Oleh sebab itu siswa membutuhkan pengertian tentang pentingnya penggunaan keterampilan sosial secara efektif. Keterampilan sosial dalam pengertian ini meliputi kerjasama, dapat berbagi dengan orang lain, partisipasi, berteman, membantu orang lain, memahami petunjuk, memahami tugas, menerima segala perbedaan, mampu menjadi pendengar yang baik, komunikasi dan interaksi positif, sabar dan mengerti sopan santun, berfikiran positif, dapat menghargai diri sendiridan orang lain, serta terhormat. Sebagai pembimbing guru membutuhkan media yang menarik dan teruji untuk melatih keterampilan sosial siswa. Namun media yang seperti itu sangat sedikit diketemukan di Sekolah Dasar. Oleh sebab itu, maka perlu dibuat produk baru yang berupa paket pelatihan keterampilan sosial bergambar untuk siswa Sekolah Dasar.
Berdasarkan paparan tersebut di atas, maka secara terinci rumusan masalah dalam penelitian ini dapat disusun sebagai berikut: 1) Apakah Paket Pelatihan Keterampilan Sosial bergambar ini menarik bagi siswa Sekolah Dasar? 2) Apakah Paket Pelatihan Keterampilan Sosial bergambar tersebut dapat diterima untuk melatih keterampilan sosial Sekolah Dasar dalam hal ketepatan, kegunaan dan kelayakannya? 3) Apakah penerapan model SLA tersebut efektif untuk melatih keterampilan sosial siswa Sekolah Dasar?
Tujuan umum dari penelitian ini adalah menghasilkan paket pelatihan keterampilan sosial bergambar yang dapat dijadikan panduan oleh guru dalam mengembangkan keterampilan sosial siswa Sekolah Dasar. Sedangkan tujuan khususnya adalah: 1) Menghasilkan Paket Pelatihan Ketrampilan Sosial bergambar yang menarik bagi siswa Sekolah Dasar. 2) Menghasilkan Paket Pelatihan Ketrampilan Sosial Bergambar yang dapat diterima untuk melatih keterampilan sosial pada siswa Sekolah Dasar yang teruji keterterimaannya dalam hal ketepatan, kegunaan dan kelayakannya. 3) Mengetahui efektifitas model SLA untuk melatih keterampilan sosial siswa Sekolah Dasar.
Selanjutnya diharapkan paket ini dapat menjadi salah satu media yang menarik dalam melatih keterampilan sosial anak-anak Sekolah Dasar. Di samping itu hasil pengembangan paket ini diharapkan juga dapat dipergunakan oleh guru sebagai media dalam bimbingan sosial siswa di Sekolah Dasar. Guru dapat menggunakannya sebagai pedoman praktis dalam membantu mengembangkan keterampilan sosial siswa, terutama keterampilan memberi salam, keterampilan meminta bantuan, keterampilan memahami petunjuk dan keterampilan meminta maaf.
METODE
Secara garis besar pengembangan ini terdiri atas tiga tahap. Tahap pertama merupakan tahap analisis kebutuhan. Tahap kedua merupakan tahap pengembangan paket keterampilan sosial dan tahap ketiga merupakan tahap uji keterterimaan paket keterampilan sosial. Untuk itu maka, desain penelitian yang dianggap tepat adalah desain hasil adaptasi dari strategi penelitian dan pengembangan (Research and Devalopment) yang dikemukakan oleh Borg & Gall (1983).
Prosedur pengembangan paket pelatihan keterampilan sosial ini dilaksanakan melalui tiga tahap. Tahapan tersebut sebagai berikut:
Tahap pertama atau tahap persiapan pengembangan. Pada tahap ini kegiatan yang dilakukan adalah melakukan need assessement. Tujuannya untuk mengidentifikasi jenis keterampilan sosial yang dibutuhkan oleh siswa. Kegiatan yang dilakukan antara lain review kepustakaan/literatur untuk menemu-kan kerangka berfikir dan dasar teori dari kegiatan yang akan dilaksanakan. Selain itu pada tahap ini juga dilakukan wawancara dan penyebaran angket terbuka pada guru-guru SekolahDasar. Pada saat ini guru diberi sejumlah pertanyaan tentang perilaku siswa yang disenangi, perilaku siswa yang tidak disenangi, perilaku siswa yang diharapkan dan perilaku siswa yang tidak diharapkan. Dari hasil survey ini diketahui perilaku apa yang diharapkan oleh guru dan perilaku apa yang terjadi pada siswa SekolahDasar. Sehingga permasalahan yang ada di SekolahDasar menjadi jelas dan memang penting untuk dicarikan solusinya. Disamping itu diadakan juga survey dan wawancara pada siswa Sekolah Dasar yang ada dilingkungan peneliti. Tujuannya untuk mengetahui keterampilan sosial apa yang perlu diprioritaskan bagi siswa Sekolah Dasar. Setelah diketahui kebutuhan keterampilam sosial yang akan dilatihkan, maka tahap berikutnya adalah mengkaji konsep-konsep dasar pelatihan yang akan dikembangkan. Pelatihan keterampilan sosial yang dikembangkan adalah: 1) keterampilan memberi salam, 2) keterampilan meminta bantuan, 3) keterampilan memahami petunjuk dan 4) keterampilan meminta maaf. Dikembangkannya keempat keterampilan ini, karenamelalui keempat keterampilan ini keterampilan sosial yang lain juga dapat dikembangkan. Misalnya melalui keterampilan memberi salam dapat juga dikembangkan keterampilan membuka dan meutup pembicaraa. Melalui keterampilan meminta bantuan dapat juga dikembangkan keterampilan berterima kasih. Melalui keterampilan memahami petunjuk/instruksi dikembangkan pula keterampilan menyimak, mendengarkan, dan berpendapat. Melalui keterampilan meminta maaf dikembangkan juga keterampilan berempati dan bersimpati.
Tahap kedua atau tahap pengembangan. Kegiatan yang dilaksanakan pada tahap ini adalah: 1) merumuskan tujuan umum dan tujuan khusus, 2) mengembangkan alat evaluasi, 3) menyusun strategi pelatihan. Strategiyang digunakan dalam pelatihan ini adalah Structured Learning Approach (SLA) dengan teknik intervensinya yang berupa: 1) petunjuk (instruksi), 2) pemberian model ( modeling), 3) bermain peran (role playing), 4) umpan balik ( feedback)dan 5) transfer pelatihan (transfer of training). Kegiatan selanjutnya adalah 4) Menyusun bahan pelatihan atau prototipe produk pengembangan yang berupa buku panduan guru dan materi pelatihan keterampilan sosial bergambar.
Tahap ketiga, adalah uji coba dan evaluasi produk. Uji coba produk meliputi uji ahli yaitu ahli rancangan dan ahli isi dan uji pengguna baik dalam kelompok kecil maupun kelompok besar. Subyek uji ahli dalam penelitian ini hádala dosen program studi Bimbingan Konseling yang telah memenuhi kriteria yang ditetapkan. Desainnya menggunakan desain deskriftif. Subyek uji pengguna kelompok kecil hádala 5 (lima) orang guru Sekolah Dasar dengan kriteria yang ditetapkan. Desainnya juga desain deskriptif. Sementara subyek uji pengguna kelo,pok besar hádala siswa kelas IV Sekolah Dasar dengan pertimbangan yang telah ditetapkan. Desaín yang digunakan adalah quasi eksperiment, dengan katagori one group pre test-post test desaign.
Data yang diperoleh pada uji ahli isi maupun ahli rancangan bersifat kualitatif dan kuantitatif. Data kuantitatif diperoleh melalui angket yang telah diiisi, sedangkan data kualitatif berasal dari kritik, saran, komentar maupun masukan dari ahli melalui wawancara dan diskusi disamping catatan-catatan yang diberikan oleh ahli untuk perbaikan produk yang dihasilkan. Data kuan-titatif kemudian dianalsis dengan menggunakan persentase. Hasil perhitungan itu kemudian dikonversikan pada kriteria yang ditetapkan oleh Cronbach (1990), sehingga dapat diketahui apakah paket tersebut dapat dilanjutkan atau belum dapat dilanjutkan ke tahap berikutnya.
Instrumen yang digunakan untuk uji ahli ini adalah angket atau inventory penilaian. Angket atau inventori penilaian ini dikembangkan untuk mengumpulkan pendapat ahli isi maupun rancangan tentang keterterimaan (acceptability) dari produk yang dihasilkan yang dilihat dari tiga aspek, yaitu: kegunaan (utility), kelayakan (feasibility) dan ketepatan (accuracy) dari paket pelatihan keterampilan sosial yang dilaksanakan.
Kegunaan (utility) mengacu pada seberapa besar paket pelatihan keterampilan sosial yang dikembangkan dapat memberi manfaat bagi guru dan siswa sekolah untuk melatih keterampilan sosial yang berupa keterampilan memberi salam, keterampilan meminta bantuan, keterampilan memahami petunjuk dan keterampilan meminta maaf. Indikator-indikatornya: a). Produk ini dibutuhkan, penting dan bermanfaat bagi guru maupun siswa. b) Produk ini dapat berfungsi (digunakan) oleh guru maupun siswa dengan tigkat pendidikan, kompetensi dan kepribdian yang berbeda, c) Produk ini memberikan dampak bagi guru maupun siswa dalam mengembangkan keterampilan sosial khususnya keterampilan sosial yang dilatihkan.
Kelayakan (feasibility) mengacu pada beberapa besar kepraktisan dan keefektifan paket pelatihan yang dikembangkan dengan mempertimbangkan tugas dan perkembangan siswa SD. Indikatornya meliputi: a) Kepraktisan prosedur yang didasarkan pada kemudahan dalam penggunaan teknik-teknik intervensi yang ditetapkan, (b) Keefektifan biaya, waktu dan tenaga yang didasarkan pada perbandingan antar besarnya biaya, tenaga dan waktu yang diperlukan untuk melak-sanakan pelatihan keterampilan sosial.
Ketepatan (accuracy) mengacu pada seberapa tepat paket yang telah dikembangkan dalam memenuhi kebutuhan keterampilan sosial siswa. Indikatornya: a) Ketepatan obyek yang dilatih. Paket keterampilan sosial ber-gambar digunakan untuk siswa sekolah dasar. Sehingga informasi yang disajikan, tujuan, tugas-tugas, rangkuman, teknik-teknik inter-vensi dan langkah-langkah pelatihannya disesuaikan dengan bahasa dan perkembangan siswa Sekolah Dasar. b) Ketepatan rumusan tujuan dan prosedur, yang mengacu pada kejelasan rumusan tujuan pada masing-masing topik, kejelasan antara judul dan topik-topik pelatihan, kejelasan penerapan teknik intervansi dan bahasa yang digunakan.
HASIL
Penilaian kebutuhan diawali dengan mengadakan survey awal pada bulan Juli 2005 di beberapa sekolah yang ada di kota Malang dan di luar kota Malang. Pada saat survey awal tersebut peneliti melaksanakan observasi pada siswa-siswa sekolah dasar dan memberikan angket sederhana kepada guru. Angket itu berisi sejumlah pertanyaan tentang perilaku-perilaku yang diharapkan oleh guru, perilaku-perilaku positif dan perilaku-perilaku negatif yang muncul dalam keseharian siswa. Hasil observasi dan angket tersebut menunjukkan bahwa hal-hal yang berhubungan dengan sopan santun, menghargai orang lain, kerjasama, mentaati peraturan, memperhatikan guru pada saat menerangkan, dan tanggung jawab merupakan perilaku-perilaku yang diharapkan dalam keseharian pada siswa Sekolah Dasar yang disurvey. Namun dalam kenyataannya banyak pula perilaku-perilaku yang tidak diharapkan sering terjadi. Misalnya membolos, berkata kotor, berkelahi di kelas, kurang memperhatikan keterangan guru, tidak biasa memberi salam dan mengabaikan tata tertib sekolah.
Berdasarkan hasil survey awal tersebut, kemudian peneliti mengadakan ka-jian literatur. Kajian literatur ini dilaksanakan untuk memberikan landasan teori dan wawasan kepada peneliti tentang keterampilan sosial yang akan dilatihkan. Kajian literatur dilakukan dengan membaca buku-buku teks, memahami hasil-hasil penelitian dan mengakses situs-situs internet yang berhubungan dengan keterampilan sosial, penelitian dan pengembangan serta mencermati berita-berita di media massa.
Di sampingitu, peneliti juga mengadakan wawancara dengan guru-guru kelas tersebut tentang pemahaman mereka terhadap keterampilan sosial. Hasil wawancara menunjukkan bahwa sebagian besar guru (22 dari 31 guru atau 71%) menyatakan bahwa keterampilan sosial adalah kerjasama dan komunikasi saja. Sisanya menyatakan bahwa keterampilan sosial tidak hanya kerjasama dan komunikasi tetapi juga empati, tolong menolong, menyimak dan simpati. Hasil-hasil tersebut semakin meyakinkan peneliti bahwa keterampilan sosial di Sekolah Dasar perlu dikembangkan.
Setelah melalui prosedur pengembangan maka dihasilkanlah 2 (dua) prototipe produk pengembangan yang berupa prototipe Buku Panduan Guru dan prototipe Paket Pelatihan Keterampilan Sosial Bergambar (PPKSB) untuk Siswa Sekolah Dasar. Keduaprototipe produk inilah kemudian diujicobakan. Uji cobanya terdiri atas uji ahli (ahli isi dan ahli rancangan), uji pengguna kelompok kecil dan uji pengguna kelompok besar. Hal yang diuji meliputi kemenarikan dan keterterimaan (acceptability) dari produk yang dihasilkan, pada aspek kegunaan (utility), kelayakan (feasibility) dan ketepatannya (accuracy).
Hasil wawancara peneliti dalam hal kemenarikan buku Panduan Guru yang dikembangkan menunjukkan bahwa, ahli pertama menyatakan Buku Panduan Guru ini sudah menarik, tapi akan lebih menarik jika diberi gambar-gambar kecil dan berwarna. Ahli pertama juga menyampaikan bahwa bentuk-bentuk tulisan dan susunannya cukup menarik dan sistematis sehingga guru tidak cepat bosan untuk membacanya. Ahli kedua menyatakan bahwa Buku Panduan Guru ini juga menarik dan sistematis. Jadi, para ahli uji coba produk dalam penelitian ini menyatakan bahwa Buku Panduan Guru ini menarik sekaligus telah teruji dalam hal keterterimaannya (acceptability). Dengan demikian prototipe Buku Panduan Guru dapat segera diuji cobakan pada pengguna.
Buku Panduan Guru telah teruji keterterimaannya (acceptability), pada aspek kegunaan (utility), kelayakan (feasibility) dan ketepatannya (accuracy). Berdasarkan hasil perhitungan dan skala yang telah ditetapkan, prosentase uji keterterimaan baik dari ahli maupun pengguna masuk dalam skala 4 (empat) yang berarti bahwa Buku Panduan ini sangat berguna, sangat layak dan sangat tepat untuk dijadikan pedoman oleh guru dalam melatih keterampilan sosial siswa. Sementara untuk aspek kemenarikannya uji ahli menyatakan menarik karena bentuk-bentuk tulisan dan susunannya cukup menarik dan sistematis sehingga guru tidak cepat bosan untuk membacanya. Pengguna juga menyatakan bahwa BukuPanduan ini juga menarik karena penampilan dan bentuk tulisannya bagus, berkesan luwes, informasinya jelas, dan langkah-langkahnyamudah dipahami.
Sementara itu Paket Pelatihan Keterampilan Sosial Bergambar untuk Siswa Sekolah Dasar (PPKSBSD) -yang berupa buku paket bergambar dengan 4 (empat) topik yang dikembangkan untuk melatih 4 (empat) keterampilan sosial-, juga telah terujiketerterimaannya (acceptability), pada aspek kegunaan (utility), kelayakan (feasibility) dan ketepatannya (accuracy). Uji ahli menyatakan bahwa Paket Pelatihan Keterampilan Sosial Bergambar untuk Siswa Sekolah Dasar (PPKSBSD) yang telah disusun sangat berguna, sangat layak dan sangat tepat untuk melatih keterampilan sosial siswa, khususnya keterampilan memberi salam, keterampilan meminta bantuan, keterampilan memahami petunjuk dan keterampilan meminta maaf.
Hasil uji pengguna kelompok kecil (guru) juga menyatakan bahwa prototipe Paket Pelatihan Keterampilan Sosial Bergambar untuk Siswa Sekolah Dasar (PPKSBSD) ini telah teruji keterterimaannya, padakegunaan (utility), aspek kelayakan(feasibility) dan aspek ketepatannya (accuracy).Hasil konversinya menunjukkan skala 4 yang berarti bahwa Paket Pelatihan Ketrampilan Sosial Bergambar untuk Siswa Sekolah Dasar (PPKSBSD) ini sangat berguna, sangat layak dan sangat tepat dapat diterima untuk melatih keterampilan sosial siswa Sekolah Dasar (SD) khususnya untuk melatih keterampilan memberi salam, keterampilan me-minta bantuan, keterampilan memahami petunjuk/instruksi dan keterampilan meminta maaf.
Sementara itu hasil uji kelompok besar (pengguna) yang diperoleh pada saat tes awal (pre-test) dari pelatihan ini rata-rata nilai konversinya ada pada skala 1, yang berari bahwapada empat keterampilan sosial yang akan dilatihkan siswa belum menunjukkan pemahaman dan perilaku yang diharapkan. Untuk itu dilakukanlah pelatihan keterampilan sosial dengan menggunakan teknik intervensi Structure Learning Approach (SLA) yang diawali dengan instruksi, pemberian model (modeling), kemudian bermain peran (role playing), umpan balik (feed back) dan latihan pada kehidupan nyata (transfer of training). Kegiatan ini dievaluasi dengan menggunakan format-format yang telah ditetapkan.
Hasil evaluasi dari penerapan teknik ini menunjukkan bahwa dalam hal keme-narikan, Paket Pelatihan Keterampilan Sosial Bergambar untuk Siswa Sekolah Dasar (PPKSBSD) ini telah memenuhi kriteria kemenarikan baik dari segi sampul (cover) maupun isinya. Kemenarikan buku paket ini dievaluasi berdasarkan format observasi dan hasil wawancara.
Setelah intervensi dilaksanakan, maka tahap berikutnya adalah melaksanakan tes akhir (post-test). Rata-rata dari keseluruhan hasil tes akhir (post-test) siswa setelah pelatihan keempat keterampilan sosial berada pada skala 4 (empat) yang berarti bahwa pelatihan yang dilaksanakan sangat sesuai/sangat tepat/sangat cocok untuk melatih keempatketerampilan sosial siswa.
Perhitungan-perhitungan tersebut di atas menunjukkan bahwa Paket Pelatihan Keterampilan Sosial Bergambar untuk Siswa Sekolah Dasar (PPKSBSD) sesuai dengan tujuan yang ditetapkan yaitu menghasilkan Paket Pelatihan Keterampilan Sosial Bergambar untuk Siswa Sekolah Dasar (PPKSBSD) yang menarik dan terujiketerterimaannya ((acceptability), pada aspek kegunaan (utility), kelayakan (feasibility) dan ketepatannya (accuracy).Disamping itu dari hasil perhitungan antara pre-test dengan post-tes menunjukkan bahwa SLA efektif untuk melatih keterampilan sosial siswa Sekolah Dasar.
KESIMPULAN
1. Paket yang dihasilkan dalam penelitian pengembangan ini telah melewati tahap uji ahli, uji pengguna kelompok kecil dan uji pengguna kelompok besar. Hasil penilaian para ahli dan calon pengguna dapat disimpulkan sebagai berikut:
a. Secara umum produk pengembangan yang dinilai dalam uji ahli dan calon pengguna ini akseptabel atau dapat diterima, ditinjau dari aspek kegunaan, kelayakan dan ketepatan. Oleh sebab itu produk yang dihasilkan dapat dijadikan pedoman oleh guru dalam pelatihan keterampilan sosial siswa di SekolahDasar.
b. Agar paket pelatihan keterampilan sosial ini dapat digunakan oleh guru secara mandiri, maka perlu dirinci langkah-langkah pelatihan yang digunakan untuk mengimplementasikan paket pelatihan keterampilan sosial yang telah disusun. Hal ini disebabkan oleh latar belakang guru yang berbeda-beda, apalagi sebagian besar bukan berasal dari bimbingan dan konseling.
c. Penggunaan gambar dan bahasa dalam penelitian pengembangan telah disesuaikan dengan bahasa dan gambar dari calon pengguna. Penyesuaian gambar dengan kebutuhan pelatihan dan keinginan calon pengguna memerlukan pertimbangan yang matang yang berhubungan dengan efisiensi waktu dan biaya. Untuk itu itu gambar disusun berdasarkan skenario pelatihan yang telah didiskusikan dengan calon pengguna.
d. Karena waktu yang disediakan hanya 2x45 menit, maka pelatihan keterampilan sosial tidak dapat diintegrasikan dalam mata pelajaran.
2.Berdasarkan perhitungan tes awal dan tes akhir Structure Learning Approach (SLA) -dengan teknik intervensi instruksi, pemberian model (modelling), bermain peran (role playing), umpan balik (feedback), dan transfer pelatihan (transfer of training)- efektif untuk melatih keterampilan sosial siswa Sekolah Dasar khususnya pada keterampilan memberi salam, keterampilan meminta bantuan, keterampilan memahami petunjuk dan keterampilan meminta maaf.